24
Mei
10

RENUNGAN

Assalaamu’alaikum Warrahmatullahi Wabarakatuh,

Sahdan, suatu hari, Imam Ghozali berkumpul dengan murid-muridnya.   Lalu Imam Ghozali mengajukan enam pertanyaan pada murid-muridnya.

Pertanyaan Pertama, ” Apa yang paling dekat dengan diri kita di dunia ini? “!
Murid-muridnya ada yang menjawab : orangtua, guru teman dan kerabatnya.

Imam Ghozali menjelaskan semua jawaban itu benar. Tetapi yang paling dekat dengan kita adalah ‘mati’.  Sebab itu sudah janji Allah bahwa setiap yang
bernyawa pasti akan mati. Oleh karena itu sudah siapkah kita mati? Bekal apakah yang akan kita bawa mati?!

Pertanyaan Kedua, ” Apa yang paling jauh dari diri kita di dunia ini? ”
Murid-muridnya ada yang menjawab : Negeri China , bulan, matahari dan bintang-bintang.

Imam Ghozali menjelaskan bahwa semua jawaban yang mereka berikan adalah benar.  Tapi yang paling jauh dengan kita adalah ‘masa lalu’. Bagaimanapun kita, apapun kendaraan kita, tetap kita tidak bisa kembali ke masa lalu. Oleh karena itu kita harus menjaga hari ini dan hari- hari yang akan datang dengan perbuatan yang sesuai dengan ajaran Allah.

Pertanyaan Ketiga, “Apa yang paling besar di dunia ini?”

Murid-muridnya ada yang menjawab : Gunung, bumi dan matahari….

Imam Ghozali menjelaskan bahwa semua jawaban yang mereka berikan benar. Tapi yang paling besar dari yang ada di dunia ini adalah “nafsu” . Justru nafsu yang menguasai diri kita, menyebabkan manusia gagal menggunakan akal, mata, telinga dan hati yang dikaruniakan Allah untuk hidup dengan benar.

Pertanyaan Keempat, ” Apa yang paling berat di dunia ini? “

Murid-muridnya ada yang menjawab : baja, besi dan gajah.

Imam Ghozali menjelaskan bahwa semua jawaban yang mereka berikan adalah benar.Tapi yang paling berat adalah “memegang amanah”. Tumbuh-tumbuhan, binatang, gunung dan malaikat, semua itu tidak mampu ketika Allah meminta mereka untuk menjadi! kholifah (pemimpin) di dunia ini. Tetapi manusia dengan sombongnya menyanggupi permintaan Allah, namun kemudian manusia lupa akan janjinya pada Allah.

Pertanyaan Kelima, ” Apa yang paling ringan di dunia ini? ”
Murid-muridnya ada yang menjawab : kapas, angin, debu dan daun-daunan. Imam Ghozali menjelaskan bahwa semua jawaban yang mereka berikan adalah benar. Tapi yang paling ringan didunia ini adalah “meninggalkan sholat”. Gara-gara pekerjaan dan urusan dunia kita dengan mudah meninggalkan sholat.

Pertanyaan Keenam, ” Apa yang paling tajam di dunia ini? ”
Murid-muridnya dengan serentak menjawab Pedang.!!.

Imam Ghozali menjawab benar, tapi yang paling tajam adalah “lidah manusia”. Karena manusia dengan begitu mudah menyakiti hati dan melukai perasaan saudaranya sendiri.  Tak ada manusia yang suci

Mari saling mengingatkan & memperbaiki HIDUP KITA. Semoga hidup jadi lebih berarti untuk meraih ridlo Illahi Robbi Amiin………………….

Wassalaamu’alaikum Warrahmatullahi Wabarakatuh

03
Apr
10

BETAPA MULIANYA HATI SEORANG IBU

( Hermadi, S.Pd )

” Bangun nak,.. Sarapanmu sudah ibu siapkan di meja.”
Tradisi ini sudah berlangsung sekian tahun sejak pertama kali aku bisa mengingat. Dan kebiasaan ibuku tidak pernah berubah.

” Ibu sayang… tidak usah repot-repot bu, aku sudah dewasa. Aku sudah bisa mengambil sendiri ”  pintaku pada ibu pada suatu pagi. Dan wajah tuanya pun langsung berubah.

Ketika telah selesai Ibu mengajak aku dan adikku makan siang di meja makan, Buru-buru kukemasi semuanya, piring, panci sayur, garpu, cucian, dan lain-lain.  Ingin kubalas jasa ibuku selama ini dengan tenaga dan keringatku. Spontan raut wajah sedih ibu tak bisa disembunyikan.

Aku bertanya-tanya dalam hati, kenapa ibu mudah sekali sedih ? Aku hanya bisa mereka-reka, mungkin sekarang fasenya aku mengalami kesulitan memahami perasaan seorang ibu, ibuku sendiri.  Teringat dari sebuah artikel yang kubaca, orang yang lanjut usia bisa sangat sensitive dan cenderung untuk bersikap ke kanak-kanakan. Tetapi entahlah… yang jelas, niatku ingin membahagiakan ibuku, malah membuat ibu menjadi sedih. Seperti biasa, ibu tidak akan pernah mengatakan apa-apa.

Suatu hari kuberanikan diri untuk bertanya ” Bu, .. maafkan aku kalau telah menyakiti perasaan ibu. Sebetulnya apa yang membuat ibu sedih? “,  Kutatap sudut-sudut mata ibuku, ada genangan air mata di sana. Terbata-bata ibu menjawab : ” Ibu sadar nak, dan merasa bahwa kamu berdua tidak lagi membutuhkan ibu. Kamu sudah dewasa, sudah bisa menghidupi diri sendiri.  Ibu tidak boleh lagi menyiapkan sarapan untuk kamu, ibu tidak bisa lagi memberi jajanan untuk kamu. Ibu tidak boleh lagi menata tempat tidurmu, … semua sudah bisa kamu lakukan sendiri “

Ah, Ya Allah, untuk sejenak aku tidak bisa berkata apa-apa. Ternyata buat seorang Ibu.. bersusah payah melayani putra-putrinya adalah sebuah kebahagiaan. Meski putra-putrinya sudah dewasa sekalipun. Satu hal yang tak pernah kusadari sebelumnya.  Niat membahagiakan bisa jadi malah membuat orang tua menjadi sedih.

Terhadap kedua orang tua, kadang kita tidak pernah membuka diri berusaha untuk mengetahui arti kebahagiaan yang sesungguhnya. Kita melihat kebahagiaan dari sudut pandang kita masing-masing.

Pantas saja aku sering melihat, seorang ibu yang sibuk bekerja menyiapkan ini itu, bahkan kadang tidak segan-segan mencuci piring dan menyapu, demi untuk melayani putra-putrinya. Semua ikhlas dia kerjakan, tanpa membutuhkan upah dan pujian. Meski ia sendiri tahu, anak-anaknya sudah dewasa dan sudah bisa mengerjakan sendiri.

Diam-diam aku termenung, bertanya-tanya dalam hati, apa yang dapat kupersembahkan untuk ibuku dalam usianya dan usiaku sekarang ? Adakah ibu bahagia dan bangga pada putra-putrinyanya ? Aku dan adikku ?

Ketika suatu saat kutanyakan pada ibuku tentang kebahagiaan itu, Ibu menjawab : ” Banyak sekali nak,  kamu berdua memberi kebahagiaan pada ibu. Kamu tumbuh sehat dan lucu ketika bayi adalah kebahagiaan. Kamu berprestasi di sekolah adalah kebanggaan. Setelah dewasa, kamu berprilaku sebagaimana seharusnya seorang hamba Allah, itu juga kebahagiaan buat ibu. Ibu memelihara kalian sejak kecil, dan sekarang kalian berusaha untuk membalas membahagiakan ibu, itu adalah suatu kebahagiaan. Setiap kali binar mata kalian mengisyaratkan kebahagiaan di situlah letak kebahagiaan orang tua.”

Lagi-lagi aku hanya bisa mengucap dalam hati,  “Ampunkan aku ya Allah, kalau selama
ini sedikit sekali ketulusan yang kuberikan kepada ibuku.  Terlalu banyak alasan yang kusampaikan ketika ibu menginginkan sesuatu.” Betapa mulianya hati seorang ibu. Melalui liku-liku perjalanan hidupnya, seorang ibu masih tetap ingin berbuat banyak untuk kebahagiaan anak-anaknya. Betapa tepat Nabi Muhammad SAW mengisyaratkan kepada kita,  bahwa syurga terletak ditelapak kaki seorang ibu.

Aku merasa, ibuku seorang yang idealis, menata keluarga, merawat dan mendidik anak-anak, adalah hak prerogatifnya yang takkan pernah dilimpahkan kepada siapapun. Ah, maafkan kami ibu, selama lebih kurang 18 jam setiap hari, ibu seakan sebagai ” pekerja ” yang tak pernah mendapat upah. Dan juga tidak pernah mengenal lelah. Sanggupkah aku membahagiakan ibuku ya Allah ?

” Bangun nak.. sarapannya sudah ibu siapkan di meja.. ”
Kali ini aku segera melompat,  kubuka pintu kamar dan kudekap erat-erat kurangkul ibuku sehangat mungkin.  Kuciumi pipinya yang mulai keriput, kutatap matanya yang mulai redup, kubisikkan ditelinganya lekat-lekat dan kuucapkan.. ” Terimakasih ibu, aku beruntung sekali memiliki ibu yang baik hati, ijinkan aku membahagiakan ibu “. Kulihat binar itu memancarkan kebahagiaan.

Aku ini milikmu, ibu. Aku masih sangat membutuhkanmu.. maafkan kami yang belum bisa menjabarkan arti kebahagiaan buat ibu.

Tidak selamanya kata sayang harus diungkapkan dengan kalimat “Aku sayang padamu”. Namun begitu, Allah menyuruh kita untuk menyampaikan rasa cinta yang kita punya kepada orang yang kita cintai dengan perlakuan yang bisa kita lakukan. Dan .. aku sudah melakukan, kupeluk erat-erat ibuku. Tanpa disadari, air mata kamipun berlinang.

Ya Allah, cintailah ibuku, cintailah ayahku, karena mereka mencintaiku dengan seluruh hidupnya. Beri aku kesempatan untuk bisa membahagiakan ibuku, beri aku kesempatan untuk bisa membahagiakan ayahku. Dan jika tiba saatnya nanti satu persatu Kau panggil, terimalah dan jagalah mereka disisiMu.  Ya Allah, … titip ibu dan ayahku.  Ampuni dosa-dosanya, sebagaimana mereka tidak pernah mengingat kesalahan-kesalahanku.  Juga ampuni dosa-dosaku.

” ROBBIGHFIRLII WALIWAALIDAYYA WARHAMHUMAA KAMAA ROBBAYAANII SHOGHIIROO “

Artinya dalam Bahasa Indonesia :

“ Ya Tuhanku, ampunilah dosaku dan dosa ayah ibuku, sayangilah mereka sebagaimana mereka menyayangiku sewaktu aku masih kecil ”

Yaa … Allah, hanya kepadaMU kami menyembah, dan hanya kepadaMu kami menyerahkan hidupku.

رَبَّنَااَتِنَافِى الدُّنْيَاحَسَنَةً وَفِى اْلاَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَاالنَّارِ

“ Robbana atinna fii dunya khasanah wa fil akhiroti khasanah waqinna adzabannar  “

“Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka”.  Amin.

30
Mar
10

MAJULAH GURU!!! JANGAN SAMPAI DIGUYU DAN DISARU

MAJULAH GURU !!! JANGAN SAMPAI DIGUYU DAN DISARU

( Hermadi, S.Pd )

( Diguyu = ditertawakan, disaru = dicela )

Akhir-akhir ini banyak sorotan masyarakat yang ditujukan kepada guru. Menurut pengamatan penulis  kalau tidak salah sejak digulirkannya Sertifikasi Guru,  yaitu guru yang menerima tambahan intensif 1 kali gaji pokok setiap bulan. Dan ini sudah berjalan sejak tahun 2008. Semula gaji guru pas-pasan sekarang menjadi lebih tinggi dibanding penghasilan pegawai negeri lainnya. Padahal insentif tersebut tidak serta merta melekat pada guru, melainkan  penghargaan Pemerintah yang diberikan kepada guru, yang dianggap  profesioanal dalam tugas kependidikan. Penghargaan tersdebut diberikan kepada guru yang memiliki :

  1. Sertifikat Pendidik
  2. Melaksanakan Pembelajaran minimal 24 jam tatap muka / minggu
  3. Mengajar mata pelajaran yang relevan dengan setifikatnya

Sertifikasi Guru  tersebut  kontan saja sedikit banyak menimbulkan rasa iri pada jajaran pegawai negeri yang lain. Pasalnya mereka menerima gaji sesuai apa adanya, plus tunjangan, tanpa ada tambahan yang lainnya. Kenaikan pangkat dan golongan diberlakukan regular 4 tahun sekali, sementara bagi guru kenaikan pangkat  dan golongan diberikan berdasarkan Penilaian Angka Kredit ( PAK ).  Dengan adanya PAK memungkinkan guru naik pangkat paling cepat 4 semester, paling lama 5 semester ( 2,5 tahun ). Kenaikan pangkat dan golongan bagi guru melaju cepat, mengalahkan pegawai yang lain. Bagi guru yang baru diangkat ( S1 = III/A ) untuk mencapai pangkat dan golongan Pembina, IV/A  hanya perlu waktu 10 s.d 12 tahun masa kerja, sedangkan bagi pegawai yang lain memerlukan waktu 20 tahun. Di jajaran pendidik yang menduduki pangkat/golongan Pembina/IV/A tidak terhitung banyaknya. Dan seandainya dengan persyaratan yang sama bisa naik pangkat terus,  maka  akan banyak nanti guru pensiun dengan golongan IV/E.

Wajar saja jika kemudian  perguruan tinggi untuk kependidikan yang tadinya kurang diminati lulusan SMA/SMK, kini bagai magnit memiliki daya tarik kuat sekali untuk diminati lulusan tersebut. Lulusan SMA/SMK saling berminat menjadi guru masuk pada bidang ilmu pendidikan yang mungkin bakat dan karakternya tidak cocok menjadi guru. bahkan yang sudah “ sarjana “  pun berbondong-bondong mencari Akta 4 untuk dapat menjadi guru. Atau kalau tidak Akta 4 ya mencari jalan/peluang ( PPG ) untuk menjadi guru.

Hal ini disebabkan semakin sulitnya mencari pekerjaan sesuai dengan jurusan yang ditekuninya. Apalagi sejak diterapkannya otonomi daerah. Bagi sarjana non pendidikan yang diderahnya tidak ada kuota, mau tidak mau harus mengikuti seleksi CPNS pusat. Disamping saingannya cukup berat harus bersedia ditempatkan dimana saja diseluruh wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia. Sementara sekarang banyak sarjana yang semakin cengeng, inginnya bekerja di sekitar daerahnya sendiri.

Rasanya masyarakat menjatuhkan penilaian kurang adil terhadap profil seorang guru. Orang mengira tuntutan pendidikan masa lalu dengan sekarang sama. Oleh karenanya juga mengira kalau pekerjaan guru dulu dan sekarang juga sama,  ringan-ringan saja. Mengajar, menyuruh mencatat, memberi tugas, menarik uang, dan lain-lain … yaah pokoknya yang ringan dan mudah dikerjakan. Kemajuan siswa dalam mengetahui/menguasai bidang  teknologi tidak dikaitkan dengan keberhasilan pendidikan, melainkan dikaitkan dengan keadaan yang kata mereka memang seharusnya begitu. Tetapi jika ada peserta didik yang berbuat tidak terpuji karena  terkena dampak negatife penggunaan tehnologi maju, kesalahan dialamatkan pada sekolah, terutama guru-gurunya. Kesadaran akan tanggung jawab sama-sama mendidik nyaris tidak mereka miliki. Orangtua jarang yang peduli. Yang penting anak sudah sekolah ya sudah ….dan orangtua tidak merasa bersalah.

Dengan adanya sertifikasi guru banyak yang berkomentar sekarang mendengarkan lagu “ Hymne Guru “ tidak ada makna dan magnitnya sama sekali. Kalau dulu begitu mendengar lagu itu hati jadi terharu dan langsung bisa menangis. Tetapi sekarang mendengar lagu itu biasa-biasa saja, tidak tersentuh sama sekali. Toh guru bukan lagi “ Pahlawan Tanpa Tanda Jasa “  tapi diubah  “ Pegawai Terus Tambah Jaya “  Amiiin.

Masyarakat mungkin belum banyak yang tahu, kalau tuntutan pendidikan dulu dan sekarang sudah jauh berbeda. Sekarang sudah tidak jamannya lagi guru yang statis seperti dulu,  ibarat air es yang tetap tenang tanpa bergeming walaupun ada gelombang perkembangan dan kemajuan jaman. Apa yang didapat dari ilmu pendidikan guru dibawa terus tanpa ada pengembangan yang berarti. Meski guru dianggap sumber ilmu, tetapi orang mengira guru tidak mampu menghadapi tantangan perkembangan ilmu/teknologi yang terbaru. Gambaran guru yang mengajar menggunakan computer, Laptop, ( multi media  ) jauh dari angan-angan mereka. Apalagi untuk sekolah yang masih dasar ( SD, SMP ). Menggunakan Komputer tahunya kalau kerja administrasi, dan  hanya didapat kalau kursus diluar. Masyarakat tidak tahu kalau komputer, Laptop sudah menjadi sarana  belajar bagi setiap siswa.

Sekarang menjadi seorang guru tidak mudah seperti dulu. Guru dituntut lebih maju. Sesuai dengan tuntutan jaman, setiap guru harus bisa mengembangkan ilmu pengetahuan, baik untuk kepentingan mengajar, maupun untuk kepentingan standard profesionalismenya ( Standar Kompetensi Guru ).  Tidak ada lagi  guru yang apriori terhadap tuntutan pendidikan. Tidak ada lagi guru yang gagap  ilmu pengetahuan dan teknologi.  Tidak ada lagi guru yang tidak bisa menggunakan komputer.  Tidak ada lagi guru yang tidak bersentuhan dengan  alat pembelajaran multimedia.  Baik yang berupa Laptop, LCD, Internet, dll. Tidak ada lagi guru yang berkata : “  Aaah sudahlah … aku tidak tahu  … toh itu bukan urusanku, bukan ilmu yang harus ku kuasai … tidak tahupun juga tidak apa-apa “.

Guru!!!  Meski tidak gila hormat, tetapi jadilah terhormat di masyarakat …? Kalau kita menyimak wacana “ guru “  yang ada di negara tetangga kita Malaysia, disana guru mendapat kedudukan yang terhormat. Sama seperti kedudukan pembesar atau pejabat didaerahnya. Kalau disini lagu-lagu pujian untuk guru sangat terbatas,  hanya ada 2 lagu, yaitu : Lagu Untuk Guru dan Hymne Guru, sedangkan di Malaysia lebih dari 10  lagu pujian untuk guru.  Siswa-siswi dalam memperlakukan guru sama seperti layaknya meperlakukan ayah dan ibu. Begitu khusyu’ dalam mendengarkan dan mengindahkan ajaran serta nasehatnya.  Setiap siswa meneteskan air mata ketika membawakan lagu atau puisi yang syairnya berisi pujian untuk guru.  Sepuluh tahun yang lalu gaji guru ( pangkat dan masa kerja disamakan ) di Malaysia satu bulan kurang lebih  1.200 Ringgit ( Rp. 3.120.000,- )  Di sini pada waktu itu kurang lebih Rp. 914.000,-  Selisih Rp. 2.206.000,-  Untuk Petugas Kantor ( pegawai yang lain ) penghasilan satu bulan  kurang lebih : 900 ringgit ( Rp. 2.430.000,- ). Ternyata di Malaysia gaji guru memang lebih tinggi dibanding pegawai yang lain.

Bagaimanakah kedudukan dan kehidupan guru dimasa lalu .. ?

Di  masyarakat kita kedudukan guru memang cukup terhormat.  Tetapi kebanyakan mereka mengidolakan  guru itu haruslah sosok yang sederhana.  Baik sederhana dalam prilaku penampilannya,  maupun sederhana dalam prilaku ekonominya.  Kesederhanaannya haruslah menjadi contoh bagi golongan masyarakat yang sederhana pula.  Sementara masyarakat sudah mengalami kemajuan dan peningkatan, guru haruslah tetap tinggal disitu. Tanpa tersentuh tangan-tangan yang berwenang mengurus kesejahteraan. Yang menyedihkan banyak guru yang pandai merekayasa ilmu.  Dengan ungkapan “ Rajin pangkal pandai “, “ hemat pangkal kaya “, mewajibkan peserta didik menabung uang setiap harinya. Uang tabungan tersebut  digunakan untuk menutup kekurangan uang belanja. Pada gilirannya saat kenaikan kelas uang  harus dibagikan banyak guru kebingungan mencari pinjaman uang di bank-bank amatiran.  Gaji yang didapat tidak cukup dibelanjakan untuk makan satu bulan. Guru yang digambarkan dalam lagu ” Umar Bakri ”  melekat dalam kehidupan guru sehari-hari.

TUGAS MENGAJAR

Dalam melaksanakan pembelajaran  tatap muka didalam kelas,  guru harus melakukan persiapan terlebih dahulu, yakni, pertama persiapan materi yang akan di ajarkan, kedua persiapan terhadap situasi yang akan dimasuki, dan yang ketiga, persiapan terhadap siswa yang akan dihadapi.

    1. Persiapan dalam tujuan umum pembelajaran
      Guru harus mengetahui dan menguasai tujuan pembelajaran dari materi yang akan disampaikan.
    2. Persiapan tentang bahan pelajaran yang akan diajarkan.
      Guru harus siap dengan rencana pengajaran (RPP).
    3. Persiapan tentang metode mengajar yang akan digunakan dalam mengajar.
      Contoh metode mengajar seperti, demonstrasi, tanya jawab atau diskusi, Role Play, dan lain-lain.
    4. Persiapan dalam penggunaan alat-alat peraga.
      Guru wajib menggunakan alat peraga atau media untuk meningkatkan kualitas pengajaran. Alat peraga atau media yang digunakan harus tepat guna.

Aktivitas ini merupakan usaha sadar untuk merangsang berkembangnya aspek kognitif, afektif dan psikomotoris para peserta didik secara maksimal. Untuk memaksimalkan tugas dan peran tersebut, seorang guru harus memiliki kepribadian sejati dan kecakapan profesi.  Kepribadian sejati sang guru didukung mentalitas, moralitas dan spiritualitas yang kuat. Memiliki mentalitas pribadi yang kuat, karena harus bersikap jujur, menghargai nilai-nilai kehidupan, memegang teguh komitmen serta selalu meyakini bahwa kehidupan menyediakan segala sesuatu yang baik. Sedangkan kecakapan profesi ditentukan oleh kemampuannya dalam menyampaikan materi pelajaran sehingga dapat diterima oleh peserta didik.  Dalam hal kemampuannya meyampaikan materi pelajaran diukur dengan :

a. Tepatnya menetukan penggunaan metode mengajar

b. Dapat menguasai atau mengelola kelas dengan baik

c. Keberhasilan peserta didik yang dilihat dari hasil evaluasi

Bersambung …




RSS Umpan yang Tidak Diketahui

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS SAMREH’S BLOG

  • SESORAH 24 Agustus 2010
    DIDALAM BUI – KOES BERSAUDARA, posted with vodpod Filed under: Profesionalisasi Guru
    samreh
  • INDUKSI 18 September 2009
    SEKILAS TENTANG PROGRAM INDUKSI GURU ( Oleh : Hermadi, S.Pd. / Guru SMP Negeri 1 Wonopringgo ) A. PENJELASAN UMUM Berdasarkan Peraturan Pemerintah ( PP. No. 74 Tahun 2008 ) tentang Standar Kompetensi Guru dijelaskan bahwa guru sebagai tenaga pendidik yang langsung menangani masalah pendidikan harus proporsional dan profesional. Oleh karenanya guru yang baru […]
    samreh